Ilmuini adalah suatu ilmu makrifat dan syahadah secara sebenar-benar kpd Allah swt. Sungguh luar biasa dampak dari menguasai ilmu. c. ilmu pegangan para waliyulloh murni tanpa mantra. ilmu kunci dari segala ilmu (1) ilmu kunci karomah ayat kursi (1) ilmu mendatangkan raja jin syikh muhammad al asy'arii baghdaad (1) ilmu mengetahui no
Silaperhatikan tidak semua perguruan memiliki kunci ilmu pegangan diri dan harap dipastikan anda benar-benar menerima ijazah kunci ilmu pegangan diri dari saya . Print ISSN : 2088-3048 Online ISSN: 2580-9229 Institut Agama Islam Qomaruddin, Jl Raya Bungah No Laa khaula walaa kuwwata illa billaahil-aliyyil adziim 3x sehinga menyandingkan
ilmumakrifat nabi syam un al ghazy as Posted on November 4, 2016 by simolodoyo Salamun alaikum berikut akan kami bukakan keilmuan yang di dapat dari datuk lumut yang sebenarnya merupakan keseharusan yang harus di miliki oleh saya pribadi dalam mengesahkan murit simolodoyo.
Blog Ilmu Rijalul Gaib Daya Laduni, Cara Mencapai Ilmu Ma'rifat Tertinggi - Berbicara mengenai ilmu laduni, maka tak akan jauh-jauh dengan istilah ilmu kasyaf. Sebab ilmu kasyaf memang lebih dikenal dengan ilmu batin laduni. Ilmu ini sendiri memang terkenal sangat langka dan sakral sehingga tidak sembarang orang dapat memilikinya.
1 Terbukanya rahasia-rahasia ilmu sareat 2. Terbukanya rahasia ilmu torekoh 3. Terbukanya rahasia ilmu hakekat 4. Terbukanya rahasia ilmu hikmah suluk dan ma'rifat 5. Terbukanya rahasia sifat-sifat Allah dan ketentuan-ketentuan Allah SWT 6. Terbukanya rahasia-rahasia yang akan terjadi 7.
Sesuaidengan namanya, yaitu Sirr al-Asrar (Rahasia dari Segala Rahasia Kehidupan), setidaknya terdapat 24 macam rahasia yang diungkapkan Abdul Qadir al-Jailani dalam kitab ini. Pertama, pembahasan ini dimulai dengan keberadaan manusia yang dilihat dari sudut pandang jiwa dan raga. Secara umum, manusia mempunyai ciri-ciri fisik yang hampir sama.
RahasiaMenyucikan Hati (Kunci-kunci Pembuka Pintu Makrifat Allah) di Tokopedia ∙ Promo Pengguna Baru ∙ Pasti Ori ∙ Garansi 7 Hari ∙ Cicilan 0% ∙ Kurir Instan. Beli Rahasia Menyucikan Hati (Kunci-kunci Pembuka Pintu Makrifat Allah) di Mitra Wacana Media Official Store.
TauhidMetafisik #MakrifatImamAlGhozali~ Semoga Video Ini berkah Manfaat.~ Kunjungi =} ==== FACEBOOK =====(Muhammad Hamdan Alghozali) Klik Link Diba
Dalamilmu makrifat ada 2 kunci rahasia, yang barang siapa bisa membukanya, maka segala rahasia dirinya akan terbuka, segala rahasia Ilahi akan terbuka. Deng
Bacasemua pos yang dibuat oleh isjrrk pada ILMU SEMULA JADI RAJA RYZAL KELAYANG
kcblD. “العلم السري من وراء المعجزات” بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم اللهُمَّ صَلِّ عَلى سَيِّدِنا مُحَمَّدِ الوَصْفِ وَالْوَحْي وَاٌلرِّسالَةِ وَالْحِكْمَةِ وَعَلى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيماً “العلم السري من وراء المعجزات” The Secret Science Behind Miracles كتاب قرأته شتاء عام 1992. ولقد قدَّم مؤلف هذا الكتاب تفسيرات لظواهر خارقة للعادة حدثت في الجزر البولينيزية، وذلك استناداً إلى قوانين العلم الذي بين أيدينا. ولقد حاول المؤلف أن ينزع عن هذه الظواهر ما تتصف به من خرق للعادة، وذلك بإيضاح أن لا موجب هناك لمشاركة السكان المحليين اعتقادهم بكون هذه الظواهر هي حقاً خارقة للعادة طالما كان بالإمكان تقديم تعليل لها يعتمد ما تسنى لعقل الإنسان أن يحيط به من قوانين الوجود. وبذلك يكون هذا الكتاب إسهامةً تصب في خانة الجهود التي تنزع إلى مقاربة ما يُظَن أنه ظواهر خارقة، وبما يتكفل بتبديد ما يخالطها من ظنون وأوهام مفادها أن هناك شيئاً ما بخصوصها يتحدى العقل والمنطق وما استقر عليه الوجود. وهذه النزعة يطلق عليها مصطلح “إزالة الغموض” Demystification. ولقد عززت طروحات هذا الكتاب من اعتقادي بأن العلم ما نشأ إلا محاولةً أراد بها عقل الإنسان أن يقارب معجزات الأنبياء عليهم السلام مقاربةً تنزع عنها “إعجازيتها”، وذلك بتقديمه ما يتكفل بتفسيرها وبما لا يستدعي ضرورة القول بأن هناك إلهاً ينبغي الإقرار بأنه العلة من وراء حدوثها. فالعلم عندي لم يكن ليوجد لولا هذه المعجزات التي استفزته، وإلى الحد الذي جعلت منه يسارع إلى تقديم كل ما من شأنه أن يجعل من المعجزات ظواهر بإمكانه محاكاتها وتقليدها والإتيان بمثلها. وإذا كانت معجزات الأنبياء عليهم السلام هي ما تسبَّب في ظهور العلم محاولةً لعقل الإنسان ليحاكي ويقلِّد ما جاء به الأنبياء من غريب الظواهر وعجيبها، فإن الفلسفة ما كان لها أن تنشأ لولا ما جاءت به رسالات الأنبياء عليهم السلام من تصويرٍ للوجود يطالَب الإنسان بمقتضاه بأن يؤمن بما هو ليس بواقعي وبما لا قدرةَ للواقع على تقديم البرهان عليه. فالفلسفة نشأت لتقدم “البديل العقلاني” لكل ما جاء به الدين الإلهي من “اللامعقول” متمثلاً بوجوب القول بأن هناك إلهاً واحداً هو الله، وأن هناك غيباً وآخرة. وبذلك يتبيَّن لنا ما كان للدين من قدرةٍ على استفزاز عقل الإنسان برسالته الغيبية ومعجزاته، وإلى الحد الذي جعل هذا العقل ينتج الفلسفة والعلم ردَّ فعلٍ على هذا الاستفزاز. واليوم، وبعد آلافٍ من السنين على نشأة العلم والفلسفة عن الدين، لا يبدو أن الفلسفة المعاصرة والعلم المعاصر قد نجحا فيما أخفقت فيه علوم وفلسفات الأقدمين، وذلك طالما لم يزل الدين الإلهي بمقدوره أن يُعجزهما فلا يكون بمقدورهما مناجزته وذلك بأن تقدم الفلسفة المعاصرة ما يعلل لما هو عليه الإنسان من تناشزٍ مع الطبيعة وشذوذ عنها وخروج على قوانينها، وبأن يقدِّم العلم المعاصر العلاج الكفيل بشفاء الإنسان من تداعيات هذا التناقض مع الطبيعة، ناهيك عن استحالة أن يكون بمقدور هذا العلم أن يتعامل مع الوجه المعاصر لمعجزات الأنبياء عليهم السلام متمثلاً بكرامات الأولياء، وبما يتكفَّل بتفسيرها وفق نظرياته والقدرة على محاكاتها والإتيان بأمثالها. وبذلك يبقى الدين الإلهي صامداً في وجه محاولات عقل الإنسان لتفنيد رسالته وللبرهان على انتفاء كون هذه الرسالة هي حقاً من الله تعالى.
Rahasia huruf yang terkandung dalam Alquran, secara tegas Rasulullah tidak pernah menjelaskan rahasia ini. Hanya saja beliau mengisyaratkan bahwa di dalam Alquran itu jika diringkas, inti Alquran itu adanya dalam surat Al Fatihah sehingga disebut ummul qur’an, … kemudian oleh ulama sufi di kembangkan menjadi suatu ilmu dalam mencari hakikat huruf atau firman …. Mungkin cara yang ditempuh oleh para guru-guru sufi sering kali membuat bingung pengamat, sehingga mereka dianggap orang yang mengada-ada dalam beragama. Sebenarnya tidaklah demikian, … saya sendiri bukanlah penganut faham ajaran para sufi tentang rahasia huruf yang mereka kemukakan. Akan tetapi saya hanyalah orang yang mencoba mengerti methode yang di sampaikan sebagai pendekatan ilmu, … agar sang murid mudah memahami dalam arti hakikat. Bagi saya hal itu sah saja, karena di dalam memberikan pengertian arti tersembunyi sangatlah sulit, sehingga mereka mempunyai cara yang indah untuk memudahkan dalam memberikan arti rahasia ketuhanan dengan sederhana. Hal ini saya ungkapkan agar para pengamat tidaklah mencurigai ajaran para sufi ini. Mari kita fahami rahasia huruf ini dengan pengertian kita sekarang…. Huruf adalah sebuah rumus yang pada mulanya tidak memiliki arti apa-apa, … kemudian tersusun menjadi sebuah kata dan susunan kata menjadi sebuah kalimat dari kalimat terkandung sebuah pengertian, … dan pengertian itu bukanlah sebuah kalimat !! Kalau kita perhatikan sebelum ada kesepakatan manusia mengenai rumusan huruf, huruf adalah sebuah artikulasi yang timbul dari dorongan udara yang terhalang oleh pita suara pada tenggorokan, sehingga menghasilkan bunyi … kata ADUH !! AU !! bukan sebuah kalimat tetapi mengandung sebuah pengertian menunjukkan rasa sakit atau terkejut. Seandainya rumus-rumus itu tidak ada maka huruf, kata, kalimat pun tidak ada, … akan tetapi walaupun rumus-rumus huruf tidak ada, namun hakikat pengertian dalam diri manusia tetap ada. Anda akan menemukan bahasa yang sama pada diri manusia seluruh dunia yaitu bahasa jiwa, yang tidak berhuruf, tidak bersuara, tidak bergambar. Maka benarlah jika demikian bahwa Alqur’an itu awalnya adalah bahasa wahyu bahasa Allah laa shautun wala harfun tidak berupa suara dan bukan berupa huruf yang di-translate kedalam bahasa manusia yaitu bahasa Arab !! Pada saat itu Rasulullah hanya mengerti dengan jelas apa yang telah turun kedalam jiwanya. Bahasa Allah itu berupa ilham / wahyu, menurut kamus bahasa Arab dalam Munzid, ilham itu berarti memasukkan pengertian kedalam jiwa orang itu dengan cepat. Dikehendaki dengan cepat, ialah dituangkan sesuatu pengetahuan-pengetahuan ke dalam jiwa dalam sekaligus dengan tidak lebih dahulu timbul fikiran dan muqadimat-muqadimatnya, … seperti binatang lebah, ketika menerima wahyu dari Allah, binatang itu tidak mengenal huruf, akan tetapi mereka mampu menangkap ajaran Allah ketika Allah menginstruksi-kan membuat rumah-rumahnya yang indah dan tersusun rapi dan cerdas ! Pengertian itu tidak terdiri dari rangkaian huruf atau suara. seperti perasaan CINTA dan Perasaan RINDU dan perasaan ini tidak ada tertulis huruf C-I-N-T-A, … walaupun anda tidak menggunakan rangkaian huruf dan suara mengapa anda memahami rindu dan cinta itu, … akhirnya anda menterjemahkan kedalam bahasa manusia menjadi aku rindu, aku cinta …. Keadaan ini sangat jelas dan tidak bisa bercampur dengan perasaan lainnya. Cinta itu sangat jelas tempatnya bahkan anda mampu menceritakan dengan bahasa yang lugas. Inilah rahasia firman Allah yang akan diungkapkan oleh ulama sufi dalam bahasa yang indah dan dimengerti oleh murid-muridnya. Selanjutnya setelah anda mengerti akan uraian saya diatas maka marilah kita membahas maksud pertanyaan saudara mengenai rahasia huruf dalam Alqur’an. Alquran mengandung 6666 ayat, terhimpun dalam AL FATIHAH dan Al fatihah pula terhimpun dalam BISMILLAHIRRAHMAN NIRRAHIM dan bismillahirrahman nirrahim terhimpun dalam Alif, sedangkan ALIF terhimpun dalam BA’ dan pada Ba’ terhimpun pada titiknya. Pada titik inilah awal mula semua kejadian bentuk huruf…. Hampir mudah sekarang kita memahami maksud rumusan diatas, karena kita tahu bahwa Al qur’an itu adalah firman Allah mengandung seluruh perintah dan larangannya, tata hukum dan sejarah bangsa-bangsa manusia, … pada seluruh rangkaian firman sebanyak 30 juz itu ternyata terangkum dalam ummul qur’an Al fatihah. Pada ummul qur’an menyimpulkan inti ajaran Alquran Tentang masalah ketuhanan yaitu sifat af’al dan Dzat Allah…Dialah Allah yang memiliki sifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang Tidak ada yang berhak menyandang pujian kecuali Dia Dia lah tempat segalanya bergantung Karena Dia adalah penguasa alam semesta Kepada-Nya manusia memohon pertolongan dan petunjuk Demikianlah kesimpulan maksud ummul Qur’an, yaitu berserah dan menerima Allah serta bersandar kepada yang Maha menguasai alam dan diri manusia. Berarti dari rangkaian ayat-ayat dalam Al fatihah adalah tertumpu pada huruf ba’ dalam tata bahasa Arab sebagai ba’ sababiyah, artinya semua yang ada berasal dari huruf ba’ dengan sebab ismi nama. Kalau di pisah bi- ismi- Allah bismillah semua yang ada karena sebab adanya Asma, pada Asma terdapat yang memiliki Asma yaitu Dzat, ini terangkum dalam arti titik, karena titik baru bersifat Kun jadilah maka terjadilah segala sesuatu. Karena kun-Nya yang dilambangkan dengan titik, merupakan asal dari segala coretan huruf berasal dari titik-titik yang beraturan menjadi garis, garis menjadi bentuk atau wujud. Sedangkan dzat tidak berupa titik karena titik masih merupakan sifat dari pada DZAT !! artinya Kun Allah bukanlah DZAT, karena Kun kalam / wahyu adalah sifat dari pada Dzat, bukan Dzat itu sendiri, … sehingga arti titik adalah akhir dari segala ciptaan, pada titik ini terkandung ide-ide yang akan tergores suatu bentuk dan pada wilayah inilah yang dimaksud para kaum sufi sebagai Nur Muhammad cahaya terpuji, karena segala sesuatu akan memuja dan mengikuti kehendak Dzat, dan Dzat berkata melalui Kun-Nya, maka jadilah semuanya. Hal ini juga terurai dalam filsafat yang menunjukkan arti hidup, diurai dalam makna yang berbeda, akan tetapi mempunyai kandungan pengertian yang hampir mirip dengan uraian saya diatas. Seorang guru besar mengajarkan kepada anaknya hal berikut Ambilkan aku buah pohon itu disana itu Sang murid menjawab, Ini dia yang mulia ….Belah dua-lah terbelah, yang mulia Apakah yang kamu lihat ?Saya melihat biji yang amat kecil Belah dua-lah salah satu dari padanya Dia sudah terbelah, yang mulia Apakah yang kamu lihat didalamnya ? Tidak ada sesuatu apapun, yang mulia Sang guru berkata Yang halus ialah unsur hidup Yang tak tampak olehmu Dari yang halus itulah sebenar yang ada Yang dari padanya sekalian ini terjadi Itulah hakikat yang sejati, Itulah hidup Itulah kamu …… Dari sebuah biji, terangkum ide-ide yang akan terjadi, … nanti akan ada sebuah akar yang menjulur, daun-daun yang hijau, batang yang kokoh serta buahnya yang ranum. Dan itu terangkum dalam sesuatu yang tak terlihat, yaitu hakikat hidup Syekh An Nafiri menguraikan masalah huruf ini dalam kitab Raaitullah Aku telah Melihat Allah. Beliau dalam pembahasan masalah hakikat juga menggunakan huruf’ sebagai lambang segala sesuatu tercipta untuk mengungkapkan bahwa dzat itu bukanlah sebuah apa yang bisa digambarkan, sebab segala sesuatu yang masih bisa digambarkan disebut dengan huruf. Huruf dirangkai menjadi perkataan, dari perkataan menjadi pendapatan, pendapatan bersama dengan perkataan akan menjadikan bilangan. Pendapatan disatukan dengan bilangan perkataan, dan bilangan perkataaan disatukan dengan bilangan pendapatan menimbulkan kekuatan magis, dan atas dasar hukum peringatan hal yang demikian adalah masuk dalam kekufuran. Hukum bilangan kata adalah hukum bantah-membantah sengketa yang satu berlawanan dengan yang lain, hal mana membawa kepada kepiluan dan kecemasan, hal yang demikian adalah kemustahilan belaka dan menjadikan ketegangan dan keguncangan. Asma nama-nama dan sifat-sifat dan Af’al perbuatan-perbuatan adalah hijab belaka atas Dzat ilahiat. Karena sesungguhnya Dzat ilahiat itu tidak dapat menerima pembatas. Dzat ilahiyat itu berada pada tingkat ketinggian, sedangkan pelepasan penanggalan tajrid dan Asma dan Ilahiyat adalah urut-urutan yang menurun. Asma dengan Dzat Asmanya berdiri tanpa perbuatan Kesimpulan dari semua keterangan diatas adalah Para sufi ingin memudahkan dalam pencaharian Tuhannya melalui firman dan ciptaannya….Secara berurutan terurai sebagai berikut …Alam adalah firman Allah yang tak tertulis ayat-ayat kauniyah, dan Alqur’an adalah ayat-ayat kauliyah …Semua alam semesta tergelar atas Asma Allah bismillah Asma terkandung kehendak …Kehendak terkandung dalam sifat…Sifat terkandung dalam Af’al. Af’al terkandung pada Dzat Semua itu adalah hijab, karena asma, sifat, af’al bukanlah dzat itu sendiri … itulah yang dimaksud para sufi bahwa segala yang tergambarkan adalah HURUF, dan merupakan hijab, … dan Dzat berada dibalik TITIK … dzat tidak bisa digambarkan oleh sesuatu, … untuk mengetahui Dzat Allah harus menyingkirkan huruf dan titik, karena itu adalah hijab !! Demikian semoga Allah membuka hati kita amin
Sangat sulit menjelaskan hakikat dan makrifat kepada orang-orang yang mempelajari agama hanya pada tataran Syariat saja, menghafal ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadist akan tetapi tidak memiliki ruh dari pada Al-Qur’an itu sendiri. Padahal hakikat dari Al-Qur’an itu adalah Nur Allah yang tidak berhuruf dan tidak bersuara, dengan Nur itulah Rasulullah SAW memperoleh pengetahuan yang luar biasa dari Allah SWT. Hapalan tetap lah hapalan dan itu tersimpan di otak yang dimensinya rendah tidak adakan mampu menjangkau hakikat Allah, otak itu baharu sedangkan Allah itu adalah Qadim sudah pasti Baharu tidak akan sampai kepada Qadim. Kalau anda cuma belajar dari dalil dan mengharapkan bisa sampai kehadirat Allah dengan dalil yang anda miliki maka PASTI anda tidak akan sampai kehadirat-Nya. Ketika anda tidak sampai kehadirat-Nya sudah pasti anda sangat heran dengan ucapan orang-orang yang sudah bermakrifat, bisa berjumpa dengan Malaikat, berjumpa dengan Rasulullah SAW dan melihat Allah SWT, dan anda menganggap itu sebuah kebohongan dan sudah pasti anda mengumpulkan lagi puluhan bahkan ratusan dalil untuk membantah ucapan para ahli makrifat tersebut dengan dalil yang menurut anda sudah benar, padahal kadangkala dalil yang anda berikan justru sangat mendukung ucapan para Ahli Makrifat cuma sayangnya matahati anda dibutakan oleh hawa nafsu, dalam Al-Qur’an disebuat Khatamallahu ala Qulubihim Tertutup mata hati mereka itulah hijab yang menghalangi anda menuju Tuhan. Rasulullah SAW menggambarkan Ilmu hakikat dan makrifat itu sebagai “Haiatul Maknun” artinya “Perhiasan yang sangat indah”. Sebagaimana hadist yang dibawakan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda “Sesungguhnya sebagian ilmu itu ada yang diumpamakan seperti perhiasan yang indah dan selalu tersimpan yang tidak ada seoranpun mengetahui kecuali para Ulama Allah. Ketika mereka menerangkannya maka tidak ada yang mengingkari kecuali orang-orang yang biasa lupa tidak berzikir kepada Allah” Abu Abdir Rahman As-Salamy. Di dalam hadist ini jelas ditegaskan menurut kata Nabi bahwa ada sebagian ilmu yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali para Ulama Allah yakni Ulama yang selalu Zikir kepada Allah dengan segala konsekwensinya. Ilmu tersebut sangat indah laksana perhiasan dan tersimpan rapi yakni ilmu Thariqat yang didalamnya terdapat amalan-amalan seperti Ilmu Latahif dan lain-lain. Masih ingat kita cerita nabi Musa dengan nabi Khidir yang pada akhir perjumpaan mereka membangun sebuah rumah untuk anak yatim piatu untuk menjaga harta berupa emas yang tersimpan dalam rumah, kalau rumah tersebut dibiarkan ambruk maka emasnya akan dicuri oleh perampok, harta tersebut tidak lain adalah ilmu hakikat dan makrifat yang sangat tinggi nilainya dan rumah yang dimaksud adalah ilmu syariat yang harus tetap dijaga untuk membentengi agar tidak jatuh ketangan yang tidak berhak. Semakin tegas lagi pengertian di atas dengan adanya hadist nabi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah sebagai berikut “Aku telah hafal dari Rasulillah dua macam ilmu, pertama ialah ilmu yang aku dianjurkan untuk menyebarluaskan kepada sekalian manusia yaitu Ilmu Syariat. Dan yang kedua ialah ilmu yang aku tidak diperintahkan untuk menyebarluaskan kepada manusia yaitu Ilmu yang seperti “Hai’atil Maknun”. Maka apabila ilmu ini aku sebarluaskan niscaya engkau sekalian memotong leherku engkau menghalalkan darahku. HR. Thabrani. Hadist di atas sangat jelas jadi tidak perlu diuraikan lagi, dengan demikian barulah kita sadar kenapa banyak orang yang tidak senang dengan Ilmu Thariqat? Karena ilmu itu memang amat rahasia, sahabat nabi saja tidak diizinkan untuk disampaikan secara umum, karena ilmu itu harus diturunkan dan mendapat izin dari Nabi, dari nabi izin itu diteruskan kepada Khalifah nya terus kepada para Aulia Allah sampai saat sekarang ini. Jika ilmu Hai’atil Maknun itu disebarkan kepada orang yang belum berbait zikir atau “disucikan” sebagaimana telah firmankan dalam Al-Qur’an surat Al-Ala, orang-orang yang cuma Ahli Syariat semata-mata, maka sudah barang tentu akan timbul anggapan bahwa ilmu jenis kedua ini yakni Ilmu Thariqat, Hakikat dan Ma’rifat adalah Bid’ah dlolalah. Dan mereka ini mempunyai I’tikqat bahwa ilmu yang kedua tersebut jelas diingkari oleh syara’. Padahal tidak demikian, bahwa hakekat ilmu yang kedua itu tadi justru merupakan intisari daripada ilmu yang pertama artinya ilmu Thariqat itu intisari dari Ilmu Syari’at. Oleh karena itu jika anda ingin mengerti Thariqat, Hakekat dan Ma’rifat secara mendalam maka sebaiknya anda berbai’at saja terlebih dahulu dengan Guru Mursyid Khalifah yang ahli dan diberi izin dengan taslim dan tafwidh dan ridho. Jadi tidak cukup hanya melihat tulisan buku-buku lalu mengingkari bahkan mungkin mudah timbul prasangka jelek terhadap ahli thariqat. Dalam setiap peristiwa yang mewarnai kehidupan ini, seringkali kita tidak mampu atau tidak mau menangkap kehadiran Allah dengan segala sifat-sifatNya. Padahal sifat-sifat Allah sangat terkait erat dengan ayat-ayat kauniyahNya yang terhampar di atas muka bumiNya. Betapa Allah –melalui ayat-ayat kauniyahNya- memang ingin menunjukkan keMaha KuasaanNya dan keMaha BesaranNya agar hamba-hambaNya senantiasa mawas diri, waspada dan berhati-hati dalam bertindak dan berprilaku agar tidak mengundang turunnya sifat JalilahNya yang tidak akan mampu dibendung, apalagi dilawan oleh siapapun, dengan upaya dan sarana kekuatan apapun tanpa terkecuali, karena memang Allahlah satu-satunya pemilik kekuatan dan kekuasaan terhadap seluruh makhlukNya. Dikutip dari Tulisan Syekh Samman